Takut Menikah

February 08, 2020


Siapa sih yang nggak pengen menikah? Pasti wanita di dunia ini pengen menikah, hanya saja setiap orang punya timing nya masing-masing. Sama seperti aku. Aku nggak tau ya perempuan umur 20 tahun seperti aku pantes atau nggak ngomongin soal nikah yang boro-boro udah kerja, semester akhir aja belom hahaha. Tapi, ya maklum lah, di umur early twenty two ini kayak dihadapain sama rekan kepala dua yang sebagian udah pada nikah dan di umur-umur segini kan kaum wanita rentan dikasih janji manis pernikahan.

Aku sendiri pengen menikah, tapi sayangnya realita pernikahan nggak seindah yang sebagian wanita harapkan. Ya bukan realita pernikahan aku juga sih. Tapi, beberapa orang yang aku kenal. Dan itu nggak satu dua orang aja. Segala kerikil pernikahan mereka, bikin aku takut menikah. Dan pengen melajang aja dulu deh takut!

Aku takut menikah, alasannya sederhana- dan mungkin konyol, yaitu takut dikhianati. Aku takut harus melewati cobaan berbagai para istri yang suaminya punya sugar baby, atau terlalu sibuk kerja sehingga lupa bersikap manis, atau suaminya yang selingkuh entah selingkuh sama yang lebih cantik atau yang mungkin gak habis pikirnya selingkuh sama yang lebih jelek. Aku takut banget rasanya. Takut ngerasain sakitnya di saat aku sudah menikah. Mau cerai malu. Gak cerai menyakiti diri sendiri.

Aku juga takut, ekonomi yang kekurangan bisa jadi masalah. Karena gak sedikit keluarga yang retak karena masalah ekonomi. Ekonomi yang kurang sehingga suami merasa nggak bisa membahagiakan istri dan anak, apalagi sampe si suami tega menyalahkan istri karena kekurangan ekonomi mereka itu.

Aku juga takut, bermasalah sama keluarga suami. Gimana nanti kalau aku pergi merantau, ikut suami ke tempat keluarga, terus keluarga suami nggak bisa menerima aku, sedangkan aku nggak bisa berpisah sama suami. Aku juga nggak bisa kabur ke rumah orang tua karena jauh. Buat yang mau bilang “kalau udah nikahin sama anaknya masa iya mertua gak suka sama menantunya?” seharusnya sih memang seperti itu, tapi sayang, di dunia ini memang ada kok kejadian seperti itu. Kalau gak ada gak mungkin aku bisa takut nikah kan. Kalau aku ikut keluarga suami, seandainya kami ada permasalahan, sudah pasti keluarga suami tetap memihak suami gimanapun kesalahannya. Siapa sih di dunia ini yang gak membela keluarganya sendiri walaupun dia bersalah? Yang ada ujungnya si istri yang dicari-cari kesalahan atas kesalahan suaminya itu. Makanya, aku gak pengen deh nanti tinggal terlalu dekat sama keluarga suami.

Belum lagi masalah rumah yang semua harus ditanggung sendiri sama si istri, alasannya karena suami kerja, padahal si istri juga kerja, kenapa nggak pekerjaan rumah dikerjakan sama-sama? Masalah anak juga, mendidik anak, ngasih makan, sekolah, pergaulannya, dan sebagainya. Ditambah suami bertingkah, makin gak tega pasti liat anak, mau cerai pasti gimana ya, sedangkan si suami masih gatau diri. Aku kadang heran, kok bisa ya laki-laki seenak pantatnya menyakiti hati istri dan anaknya sendiri. Nggak takut karma dosa atau gimana sih???? Sama herannya sama perempuan di luar sana yang mau sama suami orang. Nggak malu ya? Harga diri dong coy.

Aku juga nggak siap dipoligami walaupun itu hal yang benar dalam agama. Gak ada orang di dunia ini yang mau cintanya dibagi dua. Bahkan seorang laki-lakipun dia, pasti nggak terima kan cinta nya dibagi dua. Heran sama laki-laki yang suka bawa-bawa agama kalau soal poligami, bawa-bawa rasulullah, yang ditiru dari rasul cuma poligami doang, boro-boro sama perilakunya kayak rasul, solat aja masih bolong, puasa senin kamis juga kagak. Ini mau sok-sokan bawa-bawa nama rasul. Lagian rasul itu poligami nggak kayak suami-suami zaman now, yang bini keduanya lebih muda, semok, bahenol, apalah itu. Kadang juga, bingung sebenarnya mau milih suami yang taat agama atau nggak, yang taat agama aja bisa meler-meler lihat yang lebih muda abis itu poligami, tapi kalau yang jarang solat juga nggak mau.

Kadang mikir, kenapa ya harus ada nikah, kalau itu hanya jadi lobang neraka buat kaum wanita. Aku yakin, nggak semua wanita mengalaminya. Tapi kenapa sih gitu? Kenapa harus ada pernikahan kalau ujung-ujungnya suami-istri saling bosan? Aku nggak tau yang salah itu pernikahannya atau orangnya? Atau mereka menikah dengan orang yang salah? Tapi bukannya pertemuan itu takdir? Jadi apa yang salah itu takdir ya? I don’t know..



You Might Also Like

44 komentar

  1. Begitulah realitas, kebosanan akan terjadi?? Itu adalah manusiawi. Tapi hidup tidak bisa status quo apalagi jika menyangkut realitas waktu: Kita akan segera semakin menua. Manusia 'dipaksa' oleh alam untuk menikah jika sampai waktunya.

    Soal apakah kelak bahagia atau tidak itu terpulang pada "kekuatan" diri kita sendiri. Lagipula, apa sih di dunia ini yang sepenuhnya dapat kita pertahankan? Dan apa sih yang sesungguhnya dapat kita harapkan? Tidak ada. Tidak masa muda kita, tidak juga 'a whole of our lifetime'.

    Ada semburat waktu memucat di ujung hidup kita, dan orang bijak selalu mengatakan: Jangan menjadi manusia yang menyesal.

    Jadi jalanilah hidup ini sesuai dengan rencana Tuhan.Sedangkan bahagia atau tidak itu ada di tangan kita sendiri.

    Dulu dimasa remajaku aku takut membayangkan menjadi seorang ayah, tetapi setelah menjadi seroang ayah aku mentertawakan masa remajaku itu. Apakah aku ingin kembali ke masa lalu? Tidak, kalau bisa menjadi remaja lagi aku tidak ingin menjadi diriku seperti masa lalu. Aku hanya menyesali sesuatu yang telah tertinggal jauh di belakangku, mengapa tidak bisa mencintai seseorang dengan lebih tulus dan dan lebih jujur...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kok ending nya jadi bikin penasaran ya

      Delete
    2. Sepertinya kang Sofyan teringat mantannya mbak..πŸ˜ƒ

      Delete
    3. Saya gak punya mantan... He he He

      Delete
    4. wkwkwkwkwkwkw si Agus dong selalu merusak kesyahduan hahahahah

      Delete
    5. Waduh, ada mbak Rey datang. Kabur ah..πŸƒπŸš΄πŸš΄πŸš΄

      Delete
  2. Meskipun baru masuk usia 20-an tapi saya juga sudah banyak merasakan apa yang dikatakan orang tentang a quarter life crisis. Ketakutan dan kekhawatiran akan masa depan memang sering menjadi problem di usia 20-an. Akan tetapi sebagai seorang muslim kita mempunyai iman dan tauhid yang mengajarkan keyakinan dan kebergantungan kita kepada Allah. Semoga kita bisa melalui fase ini dengan baik dan selalu diberi petunjuk oleh-Nya 

    ReplyDelete
  3. Pada saatnya nanti akan datang seorang pangeran yang akan menghalau keraguan mb Farah. Yakinlah itu

    ReplyDelete
  4. Gak usah ditakutkan, Mbak. Gak usah dipikirkan terlalu dalam. Nikmati saja hidup. Toh kita hidup cuma sekali, jadi harus bahagia. Kalau masalah jodoh, pasti akan datang sendiri. Mungkin sekarang masih berpendapat menikah itu menakutkan. Tapi ketika ada jodoh datang, bisa jadi hati Mbak terbuka dan tak ada lagi rasa takut.😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya juga ya. Makasih support nya mba☺

      Delete
    2. Nah, mbak Roem juga udah kasih semnagat..πŸ˜ƒ

      Delete
  5. wow deep, smangaatttt, menikah itu pilihan, tidak menikah juga pilihan dan dua2nya sama2 tidak apa2 :D

    ReplyDelete
  6. Jangan terlalu takut menikah mbak Farah, ngga semua pernikahan akan terjadi hal menakutkan seperti perceraian, perselingkuhan, kekurangan ekonomi dll.

    Mungkin karena mbak membaca banyak kisah blogger wanita lain yang ada masalah keluarga sehingga takut ment, tapi masih banyak kok blogger wanita lain yang hidupnya bahagia, cuma mungkin malu membagikan pada netizen lain, nanti dikira pamer.

    Jujur aku waktu remaja juga pernah takut menikah lho, karena di lingkungan saya ada yang mengalami masalah keluarga, tapi waktu terus berjalan dan aku menikah, ternyata ngga semenakutkan itu, Seneng aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih mas. Ngga semuanya buruk. Tapi tetap aja takut.

      Delete
    2. Gak percaya aku, kalau mas Agus pernah takut nikah. Hahaha.

      *Kaboooor

      Delete
    3. Woi mbak Roem, ini yang bayar baksonya siapa, kok main kabur aja.πŸ˜‚

      Delete
  7. Mau kasih insight tapi malu-malu nih usia pernikahan masih seumur jagung. Hehe.

    Kuncinya suatu hubungan itu komunikasi mba. Ikhtiar dulu dengan mencari seseorang yang satu frekuensi, caranya dengan apa? Ya dengan komunikasi. Ikhtiar sudah ya ujungnya berdoa. Istikhara saja kalau misal nanti bingung menentukan si doi tepat atau gak. InsyaAllah lebih mantep kalau sudah istikhara.

    Berumahtangga, dari yang saya jalani ya mba, ya gak melulu berisi kebahagiaan dan semua berjalan sesuai rencana. Pasti ada aja masalah. Tapi kan dari situ jadi belajar menyelesaikan masalah dan jadi belajar 'saling' terhadap pasangan.

    Ah..satu lagi prinsip hidupku. Apa yang aku share di dunia internet orang lain taunya yang baiknya saja gapapa. Soalnya gak baik mengumbar keburukan. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya mba πŸ₯Ί, tapi mba, perlu ga sih seleksi sebelum nikah? Kalau dia melakukan kesalahan, apakah dia langsung di blacklist dari daftar calon suami? Aku takut disakiti lagi dan kesalahannya terulang kembali

      Delete
  8. cupcupcup, ini karena kebanyakan baca kisah sedih ya hahaha.
    semangat!

    Hidup memang tidak pernah menjanjikan hal yang bahagia melulu.
    Ada sedih, ada luka.
    Tapi selalu ada akhir bahagia, setidaknya bagi orang yang mau berusaha.

    Suatu saat nanti, ada pangeran yang akan mematahkan ketakutan menikah tersebut.
    Tapi, seiring waktu, pangeran itu juga pasti akan menyakiti, tidak ada jaminan bakal bahagia melulu, tapi setidaknya itulah kehidupan.

    Dan biar lebih berfaedah.
    Jangan takut menikah, namun persiapkan semuanya dahulu.
    Samakan visi dan misi terlebih dahulu.
    Komunikasikan hal-hal yang urgent.

    Setelah menikah, mungkin ada di antaranya yang menyalahi perjanjian, tapi setidaknya sudah berusaha mempersiapkannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini mbak Rey sih sering share horor pernikahan, jadinya ada yang takut tuh.

      Seharusnya bagikan kisah Cinderella mbak, biar mbak Farah semangat.😁

      Delete
    2. Huhuhu iya mba.

      Ngga kok mas, sebenarnya di kehidupan nyata saya emang udah sering melihat pernikahan yang kurang harmonis

      Delete
  9. wajar mba masih takut aakan hal yg disebutin di atas.
    tunggu umur 22++ atau sbntr lagi, nanti bkal berubah mind set nya hehe. wanita utk skg emg gitu mikirnya, kalo udah punya pasangan nanti bawaan nya siap siap sendiri menikah.

    ReplyDelete
  10. Menikah menyelesaikan masalah dan mendatangkan masalah baru. Tetapi apapun itu semuanya pasti akan tiba waktunya.


    Biasanya yang takut menikah akan cepat datang jodohnya. Heeheee..

    ReplyDelete
  11. Disitulah terlihat lemahnya kita sebagai manusia Mbak. Karena itu, jika kita ingin menikah niat dan jalankanlah karena Allah. Mohon perlindungan dan penjagaan dari Nya. Karena kita tidak punya kuasa dan tidak mungkin untuk menjaga semua yang kita takutkan dari sang suami.

    Kok jadi kayak ustad gini ya saya :)

    ReplyDelete
  12. Ini kaya parno gitu si menurut saya. Pengalamanku, aku nikah sama perempuan yang sama-sama masih kuliah. Tentu uang juga masih dari orang tua. Tapi, kondisi itu (seperti yang mba takutkan soal ekonomi) ternyata membuatku semakin semangat untuk bekerja, walau masih kuliah...

    Jadi, menikahlah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kalau semangat terus berhasil. Kalau udah semangat tapi gagal mulu jadi loyo, terus rumah tangga e piye masss 😭

      Delete
  13. Masih belom mikir kesana, pernah sih kebayang, tapi apa karena emang viasa mindset bodo amat, jadi easy going dan apa kata nanti dah! At least i've done my best

    ReplyDelete
  14. kok mindset kita sama ya mbak.. menikah itu menurut saya malah buat ribet hidup dan pencipa masalah baru.. tapi itulah hidup, kalau tidak ada masalah. kita tidak akan naik ke level selanjutnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dasar aku manusia gamau susah, maunya naik level tapi takut diterpa masalah wkwkw

      Delete
  15. Waktu usia segitu, tbh aku sama sekali belum mikirin tentang nikah sih Far. Haha. Tapi aku suka sih sama gaya bercerita Farah di sini. ��������

    ReplyDelete
  16. santuy mbak, akan datang masa dimana nanti menemukan lelaki yang sesuai dengan "orderan" mbak, insyaAllah... ada baiknya fokus ke masa kini *eleh padahaal saya sendiri khawati sama masa depan

    kalau saya takut menikah karen khawatir ga bisa bahagiakan istri karena sikap, kalo udah kerja yang sampe steess,,, senyum aja ga sanggup lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tuh kan, ngerinya gini nih, laki capek kerja, bini di rumah dicemberutin atau malah diketusin

      Delete
  17. Dulu aku juga gitu kok mba. Takut nikah.. apalagi jujur aja aku pernah ada pengalaman divorce . Ex suami pertama yg ternyata ga sesuai dengan harapan :D. Sempet jd males nikah lagi, takut keulang. Tp aku tipe, yg ga ragu2 utk cerai kalo memang udh toxic banget pernikahanku. Ngapain nyakitin diri sendiri. Being single jauh LBH bagus. Tapi pas ketemu suami yg skr, lama2 berubah sih. Jd LBH mau membuka hati. Toh sbnrnya jodoh itu rahasia Tuhan. Kalo kita bilang ga akan mau nikahin, tp tuhan memberikan calonnya, ga bisa nolak juga kan. Hanya berharap dan berdoa kalo jodoh yg DTG adalah yg terbaik.

    Tapi seandainya ga, divorce bukan sesuatu yg dosa kok. Ga ush peduli kata orang mba. Yg ptg kebahagian kita dulu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, cuma ngerasain sakit nya pas divorce itu loh gasuka , pasti lebih sakit dari putus pacaran masa muda :')

      Delete

Youtube Channel

Follow by Email