Search

Hi, I am Farah!
Hai,
Aku Farah, tebak aja aku umur berapa ya hehe. Aku memulai blog ini sejak tahun 2017. Aku menulis tentang beauty, resep, personal thought dan travel. Tapi beauty sepertinya lebih dominan nih hehe. Dan, aku mau berterimakasih buat kalian semua yang sudah datang ke blog aku ^^
Selamat membaca!

Membudayakan Literasi

Sumber: pexels



Kita semua sudah pasti tau, pendidikan dasar manusia dimulai dari lingkungan keluarga. Perilaku seorang anak akan mencerminkan pendidikan atau didikan dasar mereka yang diterapkan dan didapatkan di rumah. Begitu juga perilaku literasi yang sudah membudaya pada seorang anak akan dimulai dari keluarganya terlebih dahulu.

Ngomong-ngomong, apa sih literasi itu?

Literasi adalah pengetahuan, kemampuan dan keterampilan dalam menulis dan membaca, baik itu dengan media cetak ataupun media elektronik dalam rangka mengolah informasi dan pengetahuan.

Kenapa Literasi? Penting nggak sih literasi itu?

Penting dong, karena dari literasi seorang anak akan menambah pengetahuannya. Dari literasi juga akan melatih anak untuk mencari informasi secara mandiri karena dia harus membaca, menumbuhkan sifat keingintahuannya karena dari media baca dia mendapatkan informasi baru, melatih daya analisis dan juga sebagai hobi yang positif.

Selain itu, efek jangka panjang yang bisa ditimbulkan dari budaya literasi adalah anak mempunyai kemampuan di bidang tulis-menulis.

Sehingga ketika dia beranjak remaja, dia bisa memanfaatkan waktunya untuk menulis atau bahkan mendapatkan penghargaan juga penghasilan melalui tulisannya. Kebayang kan gimana senangnya melihat anak yang memanfaatkan waktunya untuk hal-hal positif yang selain memberi benefit juga profit untuk dirinya sendiri.

Terus bagaimana peran keluarga dalam membudayakan literasi?

Kalau bicara soal peran keluarga, aku sendiri punya pengalaman bagaimana keluargaku bisa mendidik diriku menjadi seorang yang menyukai membaca juga menjadi penulis blog.

Keluargaku memang tidak punya ruangan khusus perpustakaan, tapi ibuku senang memberiku buku bacaan khusus anak-anak yang informatif juga menarik. Gak setiap minggu kok dibeli, karena kami dulu keluarga yang pas-pasan, tapi ada aja buku-buku menarik yang bisa kubaca berulang-ulang. Ibuku juga hobi membaca resep dari buku dan majalah yang membuatku semakin tertarik karena gambarnya yang bikin ngiler juga teknik foto yang cantik. Selain itu, ibuku tidak membuang majalah yang sudah dibaca sehingga kadangkala aku buka kembali majalah-majalah itu.

Kebetulan, dulu kedua orang tuaku bekerja di bidang komputer (yang mana kala itu masih banyak orang tua yang buta teknologi). Sehingga sejak SD aku sudah terbiasa dengan dunia perkomputeran, diajarin nulis di MS Word, dan sebagainya. Sehingga pas SMP aku nggak kagok lagi ketika ada mata pelajaran yang disuruh bikin blog. Setelah lulus SMA sambil menunggu pengumuman penerimaan perguruan tinggi, aku mengisi hari-hari kosongku dengan blogging resep-resep masakan yang aku masak di rumah. Dan sampe sekarang aku masih menggeluti dunia blogging dengan pembahasan yang lebih melebar nggak sekedar resep aja. 

Jadi, intinya peran keluarga dalam membudayakn literasi adalah memberi kesempatan pada anak untuk membaca dan menulis misalnya memberi buku yang menarik serta memberi contoh dalam arti mempraktekan langsung kegiatan literasi di lingkungan keluarga. Juga membuat situasi yang nyaman untuk kegiatan literasi.

Selain keluarga, budaya literasi juga perlu didukung oleh masyarakat loh. Kenapa? Karena kebiasaan dan perilaku kita sebagian besar (selain keluarga) dipengaruhi oleh lingkungan. Coba dibayangin gimana adem nya suatu komunitas masyarakat yang udah hobi nulis dan membaca. Apalagi kalau masih muda. Ya kan? Daripada dugem, narkoba dan berantem mending anak muda diedukasi dan saling mengedukasi lewat menulis. Memang sih kalo anak muda yang baca-nulis keliatan kuno gitu ya. Padahal, sebenarnya dalam menarik anak muda berbudaya literasi bisa melalui buku yang menarik untuk seusianya, menulis dan membaca lewat media sosial juga melalui blog.

Apa benar bisa? Iya bisa. Aku sendiri punya pengalaman. Dalam blogging, setelah nge-publish sesuatu, aku biasanya mempromosikan postingan ku di instagram maupun whatsapp, sehingga teman-teman ku bisa membaca tulisan ku hanya melalui satu klik saja. Dan memang itu benar adanya, salah satu sumber viewers blog ku berasal dari sosial mediaku. Malah pernah ada yang ngaku kalau setiap aku posting dia selalu membacanya, kan jadi makin semangat hehehe.

Dari blog ku juga, ada teman yang bertanya samaku gimana sih caranya bikin blog, katanya dia senang gitu liat aku ngeblog, terus dia juga pengen nulis. Alhasil aku ajarin deh. Hihihi, berhasil kan?

Jadi, dalam masyarakat juga kita sebagai bagian dari masyarakat jangan malu-malu untuk menunjukan budaya literasi kepada orang lain, baik itu menulis dan membaca, karena dari perilaku kita akan menularkan ke lingkungan sekitar. Senang kan kalau kita bisa menjadi influencer di bidang literasi di lingkungan masyarakat?

Literasi itu sangat bermanfaat, oleh karena itu keluarga dan masyarakat sangat perlu berperan dalam membudayakannya, karena dalam menciptakan sebuah “budaya” perlu didukung oleh dua komponen penting dalam kehidupan sosial manusia, yakni keluarga dan masyarakat
#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga 

Comments

  1. sejak dini harus diperkenalkan agar menjadi kebiasaaan baik

    ReplyDelete
  2. semoga kita bisa berkontribusi untuk meningkatkan literasi di Indonesia, sekecil apapun kontribusi kita ya mbak :)

    ReplyDelete
  3. Senang banget kalau bisa berkontribusi dalam mebudayakan literasi ya, terlebih zaman sekarang media sosial udah kayak hal yang biasa, membuadayakn literasi melalui medsos amat sangat memungkinkan :)

    ReplyDelete
  4. Nah salah satu blog saya tuh mindahin catatan kuliah. Tujuannya sih biar menjadi sumber litarasi bagi yang disiplin ilmunya sama dengan saya. Karena berkaitan dgn tanggung jawab akademis, maka sebisanya juga saya mencantumkan sumber rujukan akademis yang saya kutip juga mengulas suatu hal.


    Trims uraiannya mba, membuat saya bersemangat hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh berarti tulisan mas nih yang dicari cari para pelajar ya hehe

      Delete
  5. Mbaca soal literasi mamang mah jadi keingetan saat prof Reynal Kasali mengskakmat Mang Rocky Murung di acara INDONESIA LAWAK CLUB (ILC) agar mang rocky murung tidak hanya membaca satu literasi untuk dapat menyimpulkan sesuatu....

    Jangan jangan admin termasuk anak buahnya rocky gerung bin murung itu juga ya.... #suwernanyajanganbaperyah

    ReplyDelete
  6. Setuju mbaa,sekarang semua mudah diakses sampai kadang lupa soal literasi. Ini memang harus dibiasakan supaya bisa diterapkan dalam kehidupan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya, sebagai pejuang literasi *caelah, maksudnya sebagai blogger kita nggak hanya sekadar hobi nulis, tapi juga mengajak orang buat membaca tulisan kita dan memberi informasi juga memberi motivasi orang lain buat menulis juga hehe

      Delete
  7. Keluarga sebagai yg memulakan budaya literasi itu aku setuju banget. Dulu yg membiasakan aku suka membaca, itu papa . Krn beliau juga hobiii sekali membaca. Krn sering tugas ke LN, tiap pulang pasti oleh2nya buku bacaan bergambar. Krn waktu itu aku blm bisa membaca tp tertarik melihat gambar2nya, akhirnya papa yg ngajarin baca sampe bisa. Kalo utk buku, papa ga pernah mikir lama utk beliin kami. Tiap ultah aja kado dr papa yg paling kami tunggu, Krn itu berarti bisa ke toko buku dan membeli sebanyak apapun buku yg kami mau, asal kuat bawa keranjangnya. Aku sama adek biasanya saling bantu, dorong dan tarik keranjang yg kami taro di lantai hahahah. Jd yg dibeli sampe buanyak banget.

    Sayangnya lingkungan ku skr ga terlalu suka membaca aku lihat. Tp mungkin Krn kebiasaan itu udh ditanamkan banget Ama papa, ga peduli seperti apa lingkungan skr, aku tetep suka membaca. Pernah bilang ke suami, kalo aku hrs nungguin dia dlm waktu lama, mending aku di drop di toko buku, drpd di kafe. Mau berapa jam pun aku harus nungguin dia, asal di toko buku aku bakal seneng, Krn bisa puas baca dan beli ujung2nya hahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak fan orang tua juga nggak pelit kalau anaknya mau beli buku, tapi memang kami nggak sering ke toko buku sih.
      iya kak fan di toko buku itu betah aja ya rasanya :D malah kalau di cafe terlalu lama malah jadi canggung sama pegawai cafe nya, mungkin pikir pegawai nya 'ni orang numpang wifi segitunya ya' hahaha

      Delete

Post a comment