Kenapa Hanya Pacaran

August 02, 2019

loc: polbangtan medan

Dianggap pendosa

Pezina

Di cap ini itu

Disindir

Diceramahi berkali-kali

Dinilai bukan muslim sejati

Dijauhi

Dan akhirnya selalu sendiri karena merasa diasingkan oleh kaum yang merasa aku ini tidak fit dengan mereka, dan hanya akan mengotori reputasi mereka

_____________

Ya, hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku karena sudah terlalu seringnya aku mengalami itu. Aku akui, memang ilmu agamaku ini lebih tipis daripada oang-orang yang sudah pernah menceramahiku, ya mungkin setipis kulit bawang lah ya, aku akui itu. Aku rasa yang orang-orang bilang aku bukan muslim sejati mungkin memang benar adanya.

Tapi, setelah aku perhatikan dan aku sayangkan, kenapa orang-orang di sekelilingku hanya menjudge soal pacaran saja. Sedangkan dosa-dosa lain dianggap lumrah dan gak perlu dibahas. Apa karena mereka tidak pacaran sehingga orang lain yang melakukannya perlu dikasih pelajaran? Tapi kalau mereka sendiri masih merumpi, fitnah, suudzon, tidak jujur, yaudah gapapa diem aja, gausah dibahas gitu kayak kesalahan itu ditelan bumi, lenyap.

Ini memang pengalamanku sendiri, ada orang yang berusaha menceramahi ku soal pacaran, agar aku itu gak usah lagi pacaran, tapi dia sendiri memanipulasi keuangan dan memakai barang orang lain tanpa izin. Dan ketika dia memanipulasi keuangan, dan tau bahwa aku tidak memanipulasi keuangan, aku malah dibilang tidak kompak, dibilang akan merusak citra kelompok, dengan alasan kalau aku sendiri yang jujur masalah keuangan, kebohongan mereka akan terungkap, padahal aku sendiri diam-diam aja, aku gak ada bongkar sana-sini udah dituduh macem-macem, dibilang macem-macem, bukannya itu jatuhnya suudzon? Atau mungkin fitnah? Sangat aku sayangkan, dia menceramahiku, tapi ternyata memanipulasi uang dan bahkan menyalahiku karena aku tidak ikut-ikutan dan dainggap tidak kompak.

Kemudian dia sendiri pakai barang ku tanpa izin, tidak dirapikan juga setelah pemakaian. Kalau aku gatau barangku dipinjam, aku belum iya atau tidak barangku dipakai, kalau aku sendiri tidak ikhlas dia pakai barang itu gimana? Kan gak boleh juga kan, memakai barang orang lain tanpa seizin pemiliknya?

Ada lagi cerita, orang yang menceramahiku pacaran, tapi orang itu masih menggosip orang lain, dan lucunya dia juga masih berhubungan dengan laki-laki (terlihat spesial) tapi pas giliran dia yang ditegur, jawabnya kan gak pacaran hanya teman, atau hanya main-main kok, nggak serius jadi gak papa. What the!!!!!

Ada juga yang menceramahiku jangan pacaran, tapi giliran dia dipanggil sama cowo solah-olah panggilan kepada sang istri, dia diam tersipu malu tersenyum, bahkan mereka yang dua orang yang seharusnya bukan mahram itu saling bercanda. Bukannya itu menjurus ke dosa juga dan bisa menimbulkan rasa dan fitnah? Kalau dia menentang keras aku pacaran sampe segitunya, kenapa dia tidak marah dipanggil dengan panggilan yang seolah-olah dia adalah istri cowo itu padahal bukan? Kan seharusnya dia marah atau setidaknya ngomong baik-baik jangan panggil seperti itu.

Setiap ada acara yang mengundang ustad di kampus juga, topiknya hampir sering bahas pacaran, jarang aku dengar dosanya meng-ghibah, dosa-nya nyontek, makan uang yang bukan hak nya, melukai perasaan orang lain lewat kata-kata, mencuri barang yang bukan miliknya, menggunakan barang orang lain tanpa se-izin pemiliknya, bahaya fitnah dan suudzon, melawan orang tua, berkata kasar dan menghardik, mengolok-olok bentuk tubuh orang lain, dan hal-hal yang sering kita lakukan sehari-hari lainnya yang sudah dianggap lumrah di masyarakat. Padahal, banyak hal-hal yang selama ini kita anggap lumrah padahal sebenarnya perlu diluruskan, nggak tentang pacaran aja. Sebenarnya juga, dalam ceramah, daripada banyak mengancam, aku lebih suka topik yang mengenai cinta dan kedamaian, bagaimana amal yang besar pahalanya, amal yang bisa menghapus dosa, amal-amal kebaikan lainnya, sedekah dan lain sebagainya. 

Lanjut ke topik cerita, bukan maksud membenarkan pacaran,  tapi sangat aku sayangkan, orang-orang di sekelilingku sebegitu menjudge pacaran tapi menutup mata-nya akan perbuatan lain yang juga sebenarnya berdosa seperti itu. Seolah-olah dosa di dunia ini hanya tentang pacaran, sedang hal-hal lain yang notabene nya berdosa dianggap lumrah dan didiamkan saja bahkan dimaklumi. Apa karena mereka masih melakukannya sehingga mereka menganggapnya lumrah dan gak perlu dibahas? I don’t know.

You Might Also Like

9 komentar

  1. Karena "pacaran" emang udh jadi topik yg paling empuk buat dijadiin sasaran julid orang2 πŸ˜…. Ibaratnya kyk jgn nerobos lampu merah, pdhl sendirinya masih aja nerobos

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga sepemikiran. Kadang terpikir juga ini orang bahas "pacaran" tujuannya pengen julid atau gimana ya. Kayak aku tu hina banget gitu wkwkw. Caranya juga gak men-dakwah banget main sindir, marah, emosi, menjauhi orang. Aku rasa kalo nabi jaman dulu dakwah pake sindir, marah, dan menjauhi orang, mungkin islam gak laku.

      Delete
    2. Nah bener, cara mereka-nya yg sangat salah ck

      Delete
  2. Pacaran sesuai dengan syari'at islam mbak farah..

    ReplyDelete
  3. MBAAAKKKK!!! INI AKU BANGET!
    saya sampe kenyang dicap STMJ (Sholat Terus Maksiat Jalan) sama seseorang yang ilmu agamanya tebal... padahal dirinya suka gak ngaca kalo ngomong sama orang tua sering pake nada tinggi, kan itu juga dosa ya huhuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Miris, entah kenapa society kita dengan entengnya memvonis vonis orang lain, bukannya terus berkaca dan memperbaiki diri, malah judge sana sini. Nanti kalo si doi neko neko, bilang aja, "mba/mas kalo ngomong sama orang tua ilmu agamanya dipake dong, kan sayang ilmunya dipake cuma buat vonis orang, tapi gak diaplikasikan ke diri sendiri", paling abis itu ngambek wkwkw

      Delete
  4. Saya belum pernah sih diceramahin masalah pacaran, atau mungkin karena saya cuek kali ya.
    Padahal dulu pacaran lama.

    Semangattt...
    Kadang memang menilai orang itu mudah, jadi hal terbijak adalah cuekin :)

    ReplyDelete

Youtube Channel

Follow by Email