Orang Berpendidikan Harus Jadi Petani

December 18, 2018


Orang berpendidikan di Indonesia tidak harus jadi PNS atau kerja di kantor yang memusingkan karena tertekan oleh aturan dan bos. Sebagian orang berpendidikan di Indonesia juga harus jadi petani.

Mengapa demikian?

Pernahkah Anda mendengar cerita dari seorang Penyuluh Pertanian tentang petani yang hanya datang ke tempat penyuluhan karena “Bu, kudengar ini dapat duit kan?” atau karena sekedar ngopi dan makan roti yang disediakan penyuluh, dan bukan karena 100% pure ingin mendapatkan informasi sebagai tujuan utamanya.

Atau cerita dari penyuluh yang mendatangi petani bagaimana cara mengatasi masalah tanaman jagung yang tumbuhnya tidak merata dengan memperbaiki sistem pemupukannya. Sudah dipraktekkan caranya, bahkan sudah dikasih atau sudah disediakan NPK dan segala macamnya kepada petani agar petani bisa mempraktekkan ulang apa yang telah diberi tahu penyuluh. Dan jawaban petani Cuma “olo” atau “iya”. Tapi 3 minggu kemudian didatangi lagi, tidak ada perubahan dari cara pemupukan, dan ketika ditanya mengapa jawabannya “tidak ada tenaga bu”. Cerita ini tidak saya karang sendiri melainkan saya dapatkan dari dosen saya yang seorang pensiunan penyuluh di Sumatera Utara. Kembali ke cerita tadi, apa penyebabnya petani berbuat demikian? Itu karena kualitas Sumber Daya Manusia yang rendah. Dan pertanian Indonesia tidak mau lagi Sumber Daya Manusia yang seperti itu. Kapan bisa maju kalau terus-terusan bersikap seperti itu?

Kita telah memasuki era Industrial Revolution 4.0 dimana segala sesuatu dilakukan secara otomatis, berbasis internet dan GPS. Mulai dari pengolahan lahan dengan traktor berbasis sensor dan GPS, pemetaan lahan dengan GPS, perawatan tanaman berbasis drone, sensor, dan GPS, panen dengan mesin otomatis berbasis sensor hingga penjualan hasil melalui E-Commerce.

Copyright: uasmagazine.con

Dengan informasi yang sedemikian itu, tidak semua kriteria manusia bisa menangkap dan mempraktekkannya di lapangan. Lalu kriteria yang seperti apa? Yang bisa menangkap informasi tersebut dan mempraktekkannya adalah kriteria manusia yang berpendidikan. Nah, maksud berpendidikan disini ialah manusia yang memiliki kecerdasan yang baik, punya motivasi untuk maju, kreatif, dan disiplin. Karena, era pertanian yang kita hadapi sekarang bukan lagi era pertanian yang membutuhkan manusia bertenaga kuat untuk mencangkul. Kuat di lapangan itu memang perlu, tapi, kuat saja tidak cukup. Di zaman sekarang pertanian membutuhkan manusia yang cerdas yang mampu berhitung statistika, menyelesaikan algoritma untuk kebutuhan pertanian, terbiasa dengan teknologi seperti GPS, drone, dan sebagainya, mampu berurusan dengan database di komputer, mengaplikasikan GPS dan Google Earth ke dalam software untuk pemetaan lahan perkebunan, dan masih banyak lagi, juga manusia yang punya motivasi untuk bergerak, yang tau ke mana dia harus melangkah, “oh saya butuh ini, jadi saya harus melakukan ini”, yang tidak hanya mengandalkan uluran tangan orang lain, dan punya kesadaran akan pentingnya pertanian bagi bangsa dan negara serta disiplin diri dalam melakukan segala sesuatu.

Bayangkan jika Sumber Daya Pertanian Indonesia diisi oleh Sumber Daya Manusia yang handal seperti itu, saya rasa dalam waktu yang tidak lama petani tidak lagi identik dengan badan kurus dan baju lusuh, melainkan gemuk, kekar, makmur dan selalu menggunakan jeans ketika di lahan sambil memegang drone remote control ataupun the other agricultural smart tools.

Copyright: Genetic Literacy Project

Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda milenial yang akan memegang bangsa ini, diharapkan kesadarannya untuk menjadi pertani berdasi di masa depan memajukan perekonomian Indonesia melalui pertanian serta mengubah pandangan tentang petani di masa yang akan datang.

You Might Also Like

0 komentar

Youtube Channel

Follow by Email