Memahami, Dipahami, dan Memaklumi

May 17, 2018



Dipahami orang lain, dimengerti orang lain adalah hal yang sangat membahagiakan. Seolah kita merasa diberikan hadiah yang luar biasa dari Sang Pencipta. Ketika seorang teman bisa memahami kita rasanya hubungan pertemanan itu begitu luas dan menyenangkan. Rasa kagum, syukur, sedih, dan bahagia menjadi satu. Apalagi di saat-saat yang sulit dan tak semua orang paham akan perasaan dan keadaan kita tapi ada orang tertentu yang selalu ada, tidak menjauh ketika kita tersandung masalah, tidak malu dan pergi karena kekurangan yang kita punya, selalu memotivasi, dan bertutur kata dengan baik. Sangat indah.
Namun, berharap semua orang bisa memahami dan mengerti kita rasanya hanya akan berhenti pada tangga 'berharap' itu saja. Karena mengapa? Tidak semua orang bisa memahami kita. Dan kita tidak bisa memaksakan orang lain paham akan kita.
Karena, dalam perihal memahami seseorang bukanlah hal yang mudah. Ia harus menelusuri pikiran serta perasaan kita, menempuh jauh ke dalam diri kita dengan mematahkan egonya, mengedepankan nurani, tidak memandang kekurangan kita dan mengorbankan perasaan juga mengerti apa itu keperdulian. Tidak semua orang bisa sampai ke pada titik itu. Kecewa? Sedih? Iya. Tapi begitulah kehidupan kita.
Di saat sampai pada level ini apa yang harus kita lakukan. Di sini lah kita-lah yang harus memahami dan memaklumi. Memahami diri sendiri bahwa kita dengan segala kekurangan menjadikan kita bercermin apa yang membuat orang terluka dari kekurangan itu serta sadar bahwa hidup bukan untuk menjadi pribadi yang sempurna demi mengejar pujian dari orang lain, melainkan hidup adalah seni mengolah masalah, hidup adalah susunan kehidupan sosial yang kompleks dengan seribu permasalahan di dalamnya dan kita dituntut dengan mau tidak mau harus kuat menahan desakan-desakan permasalahan yang menghimpit dada , serta memahami bahwa hubungan antar-manusia bukanlah perkara belajar menyebutkan huruf A.
Tapi kita harus paham bahwa dunia begitu rumit dan kita harus tetap tersenyum bersamaan dengan turunnya air mata dan  kita harus memahami bahwa kita bukan manusia yang terbaik, bukan manusia yang kuat sendiri, melainkan kita butuh pertolongan dari Allah Swt. Di lain sisi di saat yang bersamaan, kita harus memaklumi bahwa di dunia ini akan selalu ada seseorang yang tidak bisa memahami kita. 
Yang kita lakukan saat kita merasa tak dihargai, merasa sendiri, cobalah kembali kepada Tuhanmu, Allah Swt, berdoa kepadanya, dekatkan pada kitab suci Al Quran, serta tetaplah tersenyum kepada dunia, cari lingkaran koneksi baru, tunjukan bahwa kita adalah seniman luka. Dimana kita bisa menguasai rasa perih, tidak menunjukkan kemurungan serta kesedihan dan selalu menciptakan bahagia lewat senyum kita sendiri. Intinya, syukuri permasalahan yang datang di hidupmu. Karena permasalahan ini kelak yang akan mengasah dirimu menjadi orang yang kuat. Selain daripada itu, jangan terlalu difikirkan permasalahan ini, fokuslah pada studi/kerja serta tujuan dan cita-cita hidupmu. Yakinlah kamu bisa meraih impianmu dan menunjukan pada masalah kamu bukan kertas yang mudah koyak.

You Might Also Like

0 komentar

Youtube Channel

Follow by Email