Sajak di hujan Desember

January 06, 2018


Di bawah ini adalah sederet kalimat yang kucipta kala udara begitu dingin, langit kelam, ditemani hembusan nafas si Dwi yang sedang tidur di bawah. Mungkin tidak menyentuh hatimu, tapi yang ku tahu, aku menulisnya dengan hati yang pilu.

#1
Aku cemburu
Angin yang tak ia kenal mampu menyejukkan raganya
Tanpa bertanya masalahnya hujan mampu menenangkan hatinya
Lampu benderang, yang membimbingnya melihat kebenaran
Dinding kusam selalu menghantarkan lamunan dan khayalannya
Air yang dingin mampu membersihkan luka padanya
Tanpa harus saling mengenal
Tanpa harus saling tahu
Tapi selalu ada dan saling mengerti
Sedangkan aku bisa apa?
Medan, 5 Desember 2017

#2
Cukup cahaya saja yang menembus celah jariku. Jangan bayang nya.
Medan, 5 Desember 2017

#3

Seperti jarus jam
Berjalan lurus ke depan
Yang sungkan menoleh aku di belakang
Medan, 5 Desember 2017

#4

Jangan berlari di atas genangan hujan. Nanti kamu kebasahan kenangan
Medan, 5 Desember 2017

#5

Senja saja ikhlas mengantar kepergian sang Surya. Lalu kenapa aku tidak?
Medan, 5 Desember 2017

#6

Mawar seharusnya cukup dilihat saja. Jangan digenggam. Nanti luka.
Medan, 5 Desember 2017

#7

Jangankan aksara pelangi
Melalui rintik hujan saja tak bisa menjelaskannya
Lantas haruskah petir yang menyapa?
Medan, 5 Desember 2017


______________________________________________________________________________
Sedikit curhat, jadi hari ini aku rencananya mau balik ke medan naik pesawat nam-sriwijaya tapi aku ketinggalan pesawat karena ada masalah di jalan, yaitu jembatan emas nya tutup dan terpaksa harus muter... soo ya hari ini kuhabiskan dengan ngeblog lagii
______________________________________________________________________________

You Might Also Like

0 komentar

Youtube Channel

Follow by Email